web stats

Apresiasi Rupiah Sekedar Kado Indah Dari Tuhan

0

Dalam beberapa hari terakhir ini pasar valas dan dunia berbasis moneter lainnya di kejutkan dengan “keperkasaan” rupiah yang terus mengalami penguatan (apresiasi) terhadap sang maha guru US Dollar.

Genjotan ekonomi berupa paket ketiga kiranya sakses membuat rupiah kembali pulih, perkasa, dan “cukup mengesankan”. Di tengah-tengah problematika bangsa yang tak kunjung usai, jajaran pemerintah ternyata mampu mengkolaborasikan kekuatan untuk perbaikan finansial yang mapan.

Penguatan rupiah memang menjadi harapan dan impian banyak pihak, mengingat bayang-bayang krisis 2008 dan 98 serta tatapan garang Yuan dan sentimen Dollar yang cukup menakutkan itu. Ini adalah harapan bagi para visioner, impian bagi mereka yang imaginer, kebanggan bagi para Policer (pemangku kebijakan), dan tentunya hantaman untuk kaum revolusioner yang so dari awal mengharapkan “kematian” mata uang Garuda itu.

apresiasi rupiahIni tentu saja menjadi kajian yang cukup menyita perhatian. Ya, bagaimana tidak. Pada 24 September kemarin saya baru membuat ulasan terkait kemungkinan rupiah akan terseok ke level 15.000 per US Dollarnya. Ini jelas sebuah “kemelesetan” yang tak bisa ditoleransi lagi. Sebagai seorang yang mengaku ekonom saya sangat terpukul dengan “kesalahan” ini. Tapi…

Justru disitulah letak kebenarannya. Barangkali saya akan kembali menjadikan Keynes sebagai tokoh utama dalam artikel kali ini.

John Maynard Keynes, pernah mengemukakan teori kecantikan dalam menilai sebuah fluktuasi dalam sistem berbasis moneter seperi pasar saham dan tentunya valas juga termasuk dalam kategori moneter yang dimaksud keynes. Dalam teori kecantikan tersebut keynes meyakini bahwa keputusan yang dibuat seorang investor dalam jual beli saham tidak terletak pada kondisi prima sebuah korporasi melainkan penilaian subjektif dari investor lainnya. Lalu bagaimana relevansinya dengan dunia valas (forex) ?

Karena pasar saham dan forex adalah dua dunia yang sama, yaitu sama-sama instrumen finansial berbasis moneter, maka teori keynes berlaku untuk menjelaskan alasan logis kenapa Rupiah menguat terhadap mata uang US Dollar.

Sebenarnya sederhana saja, kita hanya perlu mengambil probabilitas yang paling mungkin yang akan diambil para spekulan maupun trader valas di seluruh dunia terkait dengan persepsi mereka tentang sejumlah mata uang.

Ingat, dalam pasar valas, seluruh trader dan spekulan dari berbagai belahan dunia terhubung dalam satu wadah online untuk saling bertransaksi. Inilah yang dinamanakan dengan era pasar virtual, sebuah sistem pasar digitalisasi yang sangat efektif untuk menghasilkan duit, juga efektif untuk memporak-porandakan perekonomian. Miris!

Satu hal fundamental yang menurut hemat saya menjadi faktor utama penguatan rupiah dalam sepekan terakhir ini adalah : ISU YANG MENJADI BERITA.

Dalam ranah pasar uang maupun pasar berbasis moneter lainnya, terdapat dua hal penting yang akan mempengaruhi pembuatan keputusan trader dan investor, yang selanjutnya akan berpengaruh pada fluktuasi harga. Yaitu analisa teknikal yang berhubungan dengan kaidah matematis dalam memprediksi sebuah fluktuasi harga sekuritas, dan analisa fundamental yang mengedepankan informasi berupa berita sebagai acuan terhadap fluktuasi di pasar valas maupunĀ  pasar saham.

Faktor fundamental inilah yang kemudian menjadi pemicu utama terjadinya apresiasi rupiah. Lalu apa gerangan “berita” yang menjadi faktor utama kenaikan rupiah?

“Keraguan The Fed (Bank Sentral Amerika) dalam menaikan tingkat suku bunga”, itulah kunci dari fenomena misterius yang oleh sebagian media disambut meriah dengan pemberitan-pemberitaan hiperbolis seakan Rupiah mulai bangkit, meroket, dan menunjukkan keperkasaannya. Padahal tidak demikian!

Lah kan Rupiah memang menguat bung?

Benar, Rupiah memang menguat. Tetapi tidak sepenuhnya benar jika penguatan Rupiah merupakan manifestasi dari kekuatan rupiah itu sendiri. Karena penguatan rupiah hanyalah “akibat” dan bukan “sebab”.

Keputusan rapat kebijakan bank sentral AS pada bulan September lalu untuk tidak menaikkan suku bunganya (Fed Rate) serta buruknya data ketenagakerjaan AS yang dirilis akhir pekan lalu (Nonfarm Payrolls/NFP) membuat pelaku pasar memperkirakan Fed rate baru bisa dinaikkan tahun 2016.

Dengan proyeksi semacam itu, maka berkembanglah isu diantara para trader dan investor. Inilah sebuah keadaan dan kecenderungan psikologi yang dengan sangat mudah dipengaruhi isu dan berita.

Berita penundaan kenaikan tingkat suku bunga The Fed kemudian menjadi alasan kuat bagi para pelaku di pasar valas untuk mulai memperkirakan probabilitas melemahnya dollar.

Perkiraan akan melemahnya nilai dollar tentu saja dibarengi dengan tindakan mengurangi permintaan terhadap dollar. Meski tidak semua pasar dunia valas terpengaruh, namun faktanya permintaan terhadap dollar memang berkurang karena adanya kekhawatiran gejolak ekonomi yang tidak stabil di negeri Paman Sam tersebut.

Permintaan dollar yang berkurang inilah yang kemudian menyebabkan beberapa mata uang rival dollar macam Yen, Euro, serta Poundsterling mengalami apresiasi (penguatan).

Ini ibarat medan laga di mana musuh besar berada dalam situasi genting nan sulit. Tersungkur, kelelahan, dan dengan penuh langkah gontai menapaki jalan-jalan terjal untuk kembali merebut kemenangan.

Dollar berada pada masa-masa sulitnya akibat memar yang tak kunjung usai setelah dihantam krisis 2008 dan tekanan Yuan yang cukup membuatnya babak belur lagi.

Meski demikian, tidak ada yang namanya KEPASTIAN dalam sebuah kancah permainan moneter global bak meja kasino itu. Segala “kemungkinan” akan tetap terjadi. Mereka yang lengah akan kembali terhempas, sementara mereka yang kuat, konsisten, dan waspada akan tetap menjadi pemenang sejati. This Is Currency War!

Sekian, dan Ingatlah : Alasan paling rasional dibalik menguatnya rupiah adalah karena “melemahnya dollar”, serta alasan paling irrasional kenapa rupiah bisa menguat adalah karena Tuhan masih melakukan intervensi untuk sekedar memberi Kado kepada prajurit yang sejak lama terhempas, terluka, dan bahkan sekarat!

About Author

Leave A Reply