web stats

Resiko Bisnis Yang Harus Dipahami Seorang Auditor

0

Profesi menjadi auditor barangkali menjadi impian sebagian besar mahasiswa akuntansi. Menjadi seorang auditor memang luar biasa, selain karena tugasnya yang mulia, juga karena tantangan pekerjaannya yang sangat menarik.

Namun demikian, perlu kita pahami bahwa setiap pekerjaan pasti memiliki resiko, begitupun dengan menjadi seorang auditor. Yang dalam tulisan kali ini akan saya tegaskan bahwa menjadi seorang auditor pun ada kemungkinan menghadapi resiko bisnis.

Dalam melaksanakan kegiatannya, Auditor akan berhadapan dengan resiko audit (audit risk). Misalnya, ia memberikan opini audit yang WTP (Wajar Tanpa Pengecualian/Unqualified Opinion), padahal laporan keuangan mengandung salah saji material, baik karena error (tidak disengaja) maupun karena fraud (adanya kecurangan).

Jika hal ini terjadi, maka seorang auditor telah mengalami gagal audit (audit failure). Perannya untuk menekan resiko informasi, tidak dapat dipenuhinya. Kenapa demikian?

Mari kita lihat betapa besarnya pengaruh yang akan terjadi akibat gagal audit atau pemberian opini yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya oleh seorang auditor.

Katakanlah perusahaan yang diauditnya adalah perusahaan yang bergerak di bidang Tambang, memiliki banyak perusahaan anak. Dengan jumlah saham yang mencapai jutaan lembar, tercatat di bursa efek, yang artinya memiliki shareholder yang tidak sedikit.

Apa yang kemudian terjadi jika opini yang diberikan oleh seorang akuntan publik dalam hal ini auditor adalah WTP?

Harga sahamnya kian naik seiring dengan naiknya kredibilitas, performa, dan pamor perusahaan tambang tersebut. Investor kian bertambah banyak, kreditor semakin tertarik untuk memberikan pinjaman baik jangka pendek maupun jangka panjang. Lalu bagaimana jika suatu saat “pembohongan” finansial ini terbongkar?

Hanya ada satu kata, HANCUR. Perusahaan tersebut akan pailit karena pemegang saham nya banyak yang kabur. Harga saham anjlok, kredibilitas perusahaan pun hancur berkeping-keping.

Cukuplah kasus Enron menjadi pelajaran bagi kita, bagi para auditor dan pelaku bisnis di belahan dunia manapun. Kita tidak ingin mengulang kebobrokan dalam ranah bisnis, fraud yang menggurita sehingga pada akhirnya berujung pada tragedi finansial yang dahsyat.

Bukan hanya perusahaan, pemegang saham, dan masyarakat yang dirugikan, tetapi kredibilitas seorang auditor pun akan sirna jika hal semacam itu terjadi.

Memang, secara teknis resiko bisnis bukan urusan akuntan publik atau auditor. Banyak faktor yang bisa menyebabkan kegagalan bisnis, mulai dari lemahnya tata kelola perusahaan sampai persaingan yang ketat, situasi ekonomi dan moneter yang buruk, dan lain-lain. Apapun penyebab gagal bisnis, auditor tidak mempunyai peran apa-apa.

Namun, Auditor bisa saja terseret dalam tuntutan hukum. Misalnya jika pengguna laporan keuangan yang diaudit, adalah pemegang saham.

Pemegang saham merasa dirugikan, karena harga saham anjlok. Dengan bantuan penasehat hukum, mereka meminta ganti rugi melalui pengadilan. Kalau sudah demikian, seorang auditor bisa apa?

Oleh sebab itu, untuk menjadi seorang auditor yang menjunjung tinggi asas kejujuran, profesionalitas, dan keadilan, kita harus benar-benar memahami kondisi bisnis klien, ruang lingkupnya, dan potensi-potensi “kegagalan bisnis” yang mungkin akan terjadi.

Seorang auditor harus mengkomunikasikan opininya tanpa adanya tendensi apalagi mengesampingkan asas independensinya.

Sebab bersikap independen adalah kewajiban absolut yang harus dimiliki seorang auditor. Semoga anda, saya, dan siapapun yang ingin dan sementara berprofesi menjadi seorang auditor, mampu menjaga kredibilitas dan almamater Akuntan Publik Sejati. 😀

About Author

Leave A Reply