web stats

Cara Membangun Dan Mengelola Organisasi Ala Mahasiswa Pribumi

0

Ini adalah tulisan pertama saya yang menggunakan kata ‘pribumi’. Sehingga sebelum saya mengulas judul ini, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa non pribumi (itu berarti mahasiswa pri-venus, pri-mars, pri-jupiter, dan pri-pri yang lain) jika dalam tulisan ini terdapat krtikan dan tekanan-tekanan kecil. Sesungguhnya artikel ini hanyalah “fiksi dalam balutan fakta”, silahkan anda cari sendiri makna ungkapan tersebut. 😀

Tak banyak yang bisa saya bagikan, karena saya bukanlah organisator handal yang telah terlatih merangkai kata dan visi, mewujudkan nya dalam misi, menginspirasi banyak orang, dan yang pasti menyamakan begitu banyak persepsi yang seringkali berlawanan arah. Ya, saya bukanlah organisator yang se-sempurna itu. Memang di dunia ini ada orang-orang seperti mereka, namun tak banyak yang kemudian muncul dipermukaan.

Baiklah kali ini saya akan berbagi tulisan yang berisikan kegundahan dan kegalauan saya terkait bagaimana mengelola organisasi ala mahasiswa pribumi, baik secara praksis, positif, maupun normatif.

Mahasiswa memang merupakan suatu fase metamorfosa atau babak baru dan lanjutan dimana setiap pelajar melakukan proses pencarian makna “pembelajaran”. Pembelajaran yang saya maksud tentu saja memiliki makna yang begitu universal, namun tahapan awal yang seharusnya dibangun dalam proses pembelajaran ini adalah self awakeness – kesadaran diri.

Kenapa kesadaran diri dan apa korelasinya dengan organisasi dalam perspektif mahasiswa?

Anda pernah membaca novel “Dunia Sophia” ? Jika belum, sekali-kali mampirlah ke Gramedia dan temukan buku mungil yang siap membawa anda menyelam dalam lautan filsuf. 😀

Novel Dunia Sophia pada dasarnya membicarakan tentang dunia filsafat yang begitu erat kaitannya dengan keseharian dan aktivitas semua orang. Ada satu bagian yang ingin saya tegaskan terkait “kesadaran diri” yang saya sebutkan sebelumnya, satu kalimat yang mampu menggugah hati dan proses berpikir kita menuju kesadaran sempurna. Kalimat itu adalah “Who am I”. Dan inilah yang menjadi cara pertama dalam membangun organisasi mahasiswa yang handal.

 

Temukan Who Am I, Lalu Bangunlah Pondasi Organisasi Yang Kokoh

Ini adalah strategi nomor satu yang paling ampuh dalam mengelola organisasi ala mahasiswa pribumi. Who am I, secara gramatikal bahasa Inggris yang baik dan benar, berarti “Siapa Aku”. Secara sekilas pertanyaan ini terlihat sederhana, namun jika anda melihatnya beberapa kali kilas, dibalik pertanyaan itu terdapat jawaban dari berbagai macam pertanyaan besar.

Sebagai contoh, jika anda ditanya Dosen “kenapa kamu jarang masuk? atau kenapa kamu sering bolos?”. Sudah pasti anda akan menjawab pertanyaan sang Dosen dengan “alasan” yang menurut anda akan membenarkan fakta kenapa anda jarang masuk.

Namun jika anda mampu memahami dan menggunakan konsep who am i, akan anda temukan bahwa alasan yang anda kemukakan hanyalah alasan yang tak beralasan. Dengan kata lain, alasan tersebut unacceptable (tidak bisa diterima). Lantas bagaimana agar alasan anda dapat diterima? Pahami bahwa diri anda adalah “mahasiswa”.

cara membangun organisasi

Cukup katakan “Maaf pak saya Khilaf”. Dengan menggunakan kata “khilaf”, didalamnya terdapat makna pengakuan kesalahan dan usaha untuk tidak akan mengulanginya lagi. Jawaban seperti ini menurut saya lebih terlihat moderat dan berkarisma dibandingkan jawaban-jawaban klasik, seperti “saya kemarin habis nganter bokap ke bandara”, atau saya kemarin ada acara pernikahan keluarga”, terlalu klasik.

Diawal paragraf saya menggunakan analogi untuk menggambarkan karakteristik mahasiswa. Ingat saya menggunakan kata “menggambarkan karakteristik”, bukan menggolongkan. Karena “menggolongkan” akan menciptakan strata dalam mahasiswa, dan saya tidak sekejam itu untuk kemudian membuat tulisan yang membedakan mahasiswa berdasarkan strata.

Maka izinkanlah saya untuk menjelaskan makna analogi-analogi tersebut, karena dalam membangun sebuah organisasi yang berlandaskan prinsip “Who Am I”, langkah pertamanya adalah menyamakan persepsi. Bahwa setiap elemen organisasi tersebut adalah mahasiwa pribumi bukan pri yang lainnya.

# Mahasiswa Pribumi

Mereka (mahasiswa pribumi) adalah Insan yang sadar akan makna siapa dirinya. Mereka sadar bahwa “mahasiswa” dalam lingkup pendidikan bukanlah sekedar kata yang menggunakan atribut kata “maha” sebagai lambang keegoan dan kecongkakan. Namun kata maha tersebut ditempatkan ditempat paling tinggi sebagai simbol pengabdian dan penerimaan kebenaran serta kesiapan mengemban tanggung jawab yang begitu besar.

Mereka sadar bahwa kampus adalah wadah untuk aktualisasi diri dan membentuk jati diri yang bermental baja, bermoral, serta berdedikasi dan berprestasi. Berbicara tentang aktualisasi diri, jangan pernah malu untuk belajar dari seekor ulat.

Seekor ulat akan memperjuangkan hidup dan sisa-sisa tenaganya. Berjuang dalam wadahnya sendiri, yaitu kepompong, dengan satu tujuan dan keyakinan bahwa dirinya akan menjadi kupu-kupu yang indah.

Sehingga secara singkat saya katakan bahwa mahasiswa pribumi adalah metamorfosis dari orang-orang jelek menjadi gagah (secara attitude), bodoh menjadi cerdas, dan dari yang bermental kerdil menjadi mahasiswa dengan mental raksasa.

# Mahasiswa Pri-Venus

Ketika mendengar kata venus, apa yang anda dibenak anda? Pastinya kata ‘venus’ sangat identik dengan kecantikan, keanggunan, dan kemewahan atau hal-hal yang berkaitan dengan sebutan feminisme.

Baiklah, disini saya tidak akan membahas venusnya karena kata ‘venus’ hanyalah analogi yang saya gunakan untuk menggambarkan karakteristik mahasiswa.

Mahasiswa pri-venus, begitulah kira-kira gambaran saya terhadap jenis mahasiswa-mahasiswi yang entah kenapa seolah-olah kampus adalah mal dan salon bagi mereka. Penampilan adalah adalah harga diri, lebih dari itu, penampilan adalah harga mati bagi mereka.

# Mahasiswa Pri-Mars

Mahasiswa-i pri mars dipenuhi oleh orang-orang idealis yang sudah pasti mengesampingkan realitas. Ya, mereka sama dengan orang-orang yang berangan tinggi, ingin tinggal dan hidup di Mars padahal pergi ke negeri tetangga aja mereka belum bisa. Wong mampir ke Timur Leste aja gak pernah, mosok iye mau ke planet seberang.

Mahasiswa-i Pri Mars sebenarnya adalah calon pemimpin yang handal. Namun sangat disayangkan, mereka terbawa begitu tinggi dalam lingkaran visioner mereka yang tak jelas. Mereka terlalu idealis, saking idealisnya mereka tak sempat berbuat sesuatu. Saat yang lainnya sedang sibuk mengurusi kepanitian organisasi, orang-orang idealis ini hanya termenung dalam lamunan dan membayangkan sebuah organiasi yang masyhur setara Asgard yang bisa mereka ciptakan.

Sehingga saya katakan bahwa mereka hanyalah orang yang beriman namun tanpa amal. Memiliki keyakinan yang sangat tinggi, namun sayang mereka hampa akan aksi.

# Mahasiswa Pri-Jupiter

Nah Jupiter kan besar ya, jadi sebenarnya mahasiswa pri-jupiter ini adalah tokoh-tokoh besar dalam dunia organisasi. Tetapi saking besarnya, organisasi seolah menjadi istana yang tiada taranya, tak boleh ditinggalkan sedetikpun. Mereka adalah organisator hebat yang kebablasan. Mengira bahwa dunia kuliah tak lain untuk berorganisasi semata. Alhasil, kelas banyak yang ketinggalan dan akademik keteteran.

Dalam dunia kuliah, anda pasti akan banyak menemukan orang-orang seperti mahasiswa pri-jupiter ini. Mengaku diri mereka aktivis kelas elite, padahal mereka tak sebatas aktivis kelas teri semata. Bagi saya, seorang organisator ataupun aktivis yang layak disebut elite adalah mereka yang setidaknya mampu membagi waktu untuk urusan akademik, organisasi, dan asmara (jika ada). Jika mereka bisa membagi waktu untuk 3 hal tersebut, saya rasa cukup untuk disebut elite. 😀

“Jadilah mahasiswa pribumi, dan temukan jati diri anda sebagai mahasiswa tulen”

Dengan menyadari bahwa anda adalah mahasiswa pribumi, dan semua elemen organisasi anda adalah mahasiswa pribumi, maka anda telah berhasil membangun pondasi organisasi yang kokoh.

Ingat, SEKALI LAGI saya tegaskan. Saya tidak menggolongkan mahasiswa dalam sebutan apapun, tetapi saya hanya memberikan gambaran terkait karakteristik dari mahasiswa itu sendiri. Artinya, jika anda telah terjun dalam lingkup organisasi, maka anda harus menjadi mahasiswa pribumi.

Dengan demikian, sebuah organisasi kemahasiswaan yang anda bangun akan dinaungi oleh kumpulan orang-orang yang berdedikasi, bukan pilih kasih. Orang-orang dengan integritas dan loyalitas tinggi, dan yang pasti orang-orang cerdas bukan orang goblok yang sok cerdas.

Saya kira sampai disini dulu ulasan saya terkait 3 cara membangun dan mengelola organisasi ala mahasiswa pribumi. Ingat, dalam tulisan ini saya baru memberikan satu cara, yaitu menemukan prinsip who am i, dengan menjadi mahasiswa pribumi, untuk membangun pondasi organisasi yang kokoh.

About Author

Leave A Reply