Fraud Triangle, Virus Yang Mampu Memporak-Porandakan Entitas Bisnis

0

Sebelum membahas konsep fraud triangle ada baiknya kita sedikit mendiskusikan apa itu fraud. Hal pertama yang harus digaris bawahi adalah bahwa fraud atau kecurangan tentu berbeda dengan error atau kesalahan.

Dalam dunia accounting maupun auditing, kedua hal di atas memiliki perbedaan yang sangat kontras namun harus dilakukan tindakan preventif agar dua hal itu tidak menyebabkan sebuah entitas (perusahaan) lantas pailit dan bubar.

Jadi, dimana letak perbedaan error dan fraud?

fraud triangle

Keduanya dibedakan oleh sebuah tindakan yang dilakukan dengan SENGAJA atau tidak. Fraud terjadi ketika pihak yang memiliki otoritas dalam suatu entitas melakukan kecurangan dengan tingkat kesadaran yang 100% normal tanpa gangguan. Artinya fraud itu disengaja. Sedangkan error atau kesalahan mutlak karena adanya unsur ketidaksengajaan.

Beberapa contoh yang bisa kita temukan dari error, misalnya salah menuliskan nominal dari akun beban, kesalahan dalam melakukan penjurnalan, maupun kesalahan dalam menerapkan prinsip akuntansi. Salah satu prinsip akuntansi adalah mencatat aset pada cost nya, lalu perusahaan mencatat nilai asset tersebut pada harga pasar (fair value) bukan pada harga perolehan (cost). Inilah yang dimaksud dengan error, meski salah dalam menerapkan prinsip akuntansi, tapi kesalahan tersebut masih bisa diperbaiki dan mudah untuk diidentifikasi oleh pihak auditor.

Berbeda halnya dengan fraud atau kecurangan. Ia begitu licin, sulit diidentifikasi, dan tentu saja picik dalam memanipulasi laporan keungan.

Lalu, apa, bagaimana, dan kenapa fraud itu terjadi? Inilah yang disebut dengan Fraud Triangle atau segitiga kecurangan yang akan coba kita bahasa satu persatu….

# Pressure

Pressure merupakan dorongan untuk berbuat curang terhadap laporan keuangan dan berbagai unsur yang ada didalamnya baik asset maupun modal yang ada.

Dari tiga jenis fraud triangle, pressure merupakan yang paling berbahaya. Karena pelaku kecurangan berbuat demikian atas dasar homo homini lupus (istilah dalam ilmu sosiologi) yang berarti memakan manusia.

Ya, pressure muncul akibat keserakahan. Dan inilah yang menjadi faktor number wahid atas terjadinya kecurangan di beberapa entitas kelas berat macam Enron, Worldcom, Lehman Brother, dan skandal-skandal lainnya. Pun dalam negeri kita pasti masih ingat betul kasus Bank Century dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang sampai saat ini masih jalan di tempat atau mungkin telah terkubur di liang lahat. Allahu a’lam.

Faktor munculnya pressure dalam berbuat kecurangan menjadi cambuk yang sangat keras bagi para pelaku bisnis, pengusaha, internal control, dan siapun yang berkepentingan dengan bisnis sebuah perusahaan.

Kasus KAP (Kantor Akuntan Publik) The Big Five Arthur Andersen yang melepas jubah idependensi dan objektivitasnya sebagai akuntan publik yang termakan buaian dan rayuan Enron memberikan kita pelajaran penting. Yaitu selalu ada KESERAKAHAN dalam dunia bisnis.

# Opportunity

Peluang yang memungkinkan fraud terjad biasanya disebabkan karena internal control suatu organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan, dan/atau penyalahgunaan wewenang. Di antara 3 elemen fraud triangle, opportunity merupakan elemen yang paling memungkinkan untuk diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur, dan control dan upaya deteksi dini terhadap fraud.




# Rationalization

Berbeda dengan pressure dan opportunity, faktor ketiga ini menjadi penyebab fraud karena adanya pembenaran atas apa yang dilakukan (rasionalisasi).

Pihak yang melakukan fraud merasa bahwa apa yang ia lakukan benar atas dasar alasan-alasan yang menurutnya logis. Misalnya, masa kerja pelaku cukup lama dan dia merasa seharusnya berhak mendapatkan lebih dari yang telah dia dapatkan sekarang (posisi, gaji, promosi, dll). Atau perusahaan telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan tidak mengapa jika pelaku mengambil bagian sedikit dari keuntungan tersebut.

Begitulah fraud triangle menjawab bagaimana dan apa alasan terjadinya fraud atau kecurangan dalam sebuah perusahaan.

Mungkin orang awam akan bertanya, lalu apa masalahnya kalau mereka melakukan kecurangan? Bukankah mereka itu pemilik perusahaan? Atau, memangnya dampak apa yang akan terjadi, kan yang berbuat curang para manajemen perusahaan, ya biarin aja. Itu kan perusahaan mereka.

Tidak segampang itu. Perusahaan tidak hanya terdiri atas para stakeholder (pemilik dan manager). Tapi didalamnya ada para shareholder (pemegang saham/investor), kreditur, pegawai, bahkan masyarakat dan pemerintah.

Jika mereka (pemilik dan manajemen) berbuat curang dengan mengambil keuntungan lebih atas asset perusahaan, maka mereka telah merugikan pihak lain, baik itu pemegang saham, pemberi pinjaman, pegawai, pemerintah, dan juga masyarakat.

Itulah sebabnya fraud tetap menjadi kejahatan paling berbahaya yang harus diungkap oleh seorang auditor bak sang detektif yang mengungkap kasus kejahatan tingkat tinggi.

Dan satu hal yang perlu kita pahami bersama sebelum artikel ini saya tuntaskan, bahwa fraud tidak hanya terjadi di ranah perusahaan saja. Ada fraud yang jauh lebih besar di luar sana, fraud yang lebih menggurita dan tentu saja merugikan. KORUPSI!

negara terkorup di dunia korea utaraBaca juga: Somalia Dan Korea Utara Jadi Negara Terkorup Di Dunia

About Author

Mahasiswa Akuntansi Universitas Al Azhar Indonesia

Leave A Reply