Inflation In Frame

0

Asik judulnya pake bahasa inggris, begitulah gumam saya membatin ketika menuliskan judul ‘inflation in frame‘ di atas. Padahal tab browser google translate belom sempat ditutup, hadeh.

Jujur dari lubuk hati yang paling dalam sedalam palung mariana, saya sebenarnya gak ngerti apa arti judul ini. Tapi jangan salah loh, tulisan bukan berarti tanpa tujuan, benar kan? Tulisan inflation in frame ini akan memberikan ulasan bagaimana inflasi yang terkenal kejam itu ditinjau dari banyak perspektif. Seperti apa kira-kira ulasannya ? Jangan dikira-kira karena ane akan membuat antum mafhum samfe manggut-manggut. 😀

Jika anda bertanya pada kebanyakan orang mengapa inflasi merupakan masalah sosial, kemungkinan ia akan menjawab karena infasi membuatnya semakin miskin. Wong gimana gak miskin, biasanya makan diwarteg ceban sekarang malah gocap. Setiap tahun bos anda menaikan gaji, tetapi setiap bulan harga kebutuhan anda makin meroket, pada akhirnya kenaikan gaji yang anda terima nihil. Asumsi implisit dari pernyataan ini adalah jika tidak ada inflasi maka anda akan mendapatkan kenaikan yang riil dan mampu memenuhi lebih banyak kebutuhan.

Keluhan terhadap inflasi ini sebenarnya hal yang wajar-wajar saja. Baik itu keluhan berupa pergolakan dan kesengsaraan batin maupun keluhan yang sifatnya dramatis. Sebut saja keluhan yang sering antum liat di tivi-tivi, saat Pak Jokowi dan jajaran kabinet oikos nomosnya tiba-tiba menaikan harga bbm. wah, jangankan dunia maya, dunia gaib pun tak jarang yang berkoar dan menghujat kebijakan ini.
inflation in frameTetapi ada sebagian masyarakat dan kalangan aktivis yang kebablasan dalam menanggapi kebijakan seperti ini. Berkoar-koar, teriak sana teriak sini, maki sana maki sini. Apakah antum sudah mafhum arti kebijakan menaikan dan menurunkan harga bbm? Saya yakin belum ada yang benar-benar paham!

Setidaknya kita harus bersyukur karena negeri kita tidak dan semoga takkan pernah mengalami bencana finansial berupa bombardir inflasi yang terjadi di beberapa negara pada era 90-an dan 2008 silam. Kenapa saya katakan bersyukur, karena kategori inflasi yang banyak terjadi di negeri kita masih bisa dibilang moderat.

Kok moderat ? kan 98 Indonesia pernah krisis bahkan inflasi nya nyampe 600%, begitu mungkin gugat antum. Namun apakah antum tau bahwa krisis finansial pada era 98 adalah efek domino dari pergolakan politik waktu itu? Apakah antum tau bahwa 10 tahun setelah itu, tepatnya 2008, Zimbabwe memegang rekor inflasi yang maha tinggi?

Oleh sebab itu saya katakan inflasi di Indonesia masih bisa dibilang cukup toleran. Sebelum menghujat kebijakan pemerintah antum harus punya pijakan yang kuat, dan saat pijakan itu sudah ada, saya yakin niat hujatan antum akan berubah menjadi ungkapan syukur.

Bayangkan inflasi maha tinggi yang melanda Zimbabwe, 2.200.000 % (2,2 juta persen), apakah antum kebayang gimana mahalnya berbagai kebutuhan yang melanda negeri malang itu? Bayangkan jika harga seporsi nasi plus lauk pauknya sebelum terjadi inflasi adalah Rp 15.000 (permisalan), maka ketika terjadi inflasi, masyarakat Zimbabwe harus tawadhu untuk membayar Rp 330.000.000 (330 juta lebih) untuk seporsi nasi. 🙁

Saya bukannya membanding-bandingkan tetapi itulah realitas yang terjadi. Dan lagi-lagi saya katakan rasa syukur kita harus ada karena inflasi yang melanda bumi pertiwi ini masih sangat moderat. Apa? antum masih mau berkilah? Baiklah, baca dan camkan realitas berikut ini….

Setelah Perang Dunia 1, Jerman mengalami salah satu contoh dari hyperinflasi yang paling spektakuler. Hal ini dimulai dari peningkatan harga koran yang kemudian memberikan efek domino pada berbagai harga produk lainnya, terus mewabah yang akhirnya menjadi inflasi yang mencengangkan.

Hyperinflasi Jerman di mulai pada tahun 1923. Pada periode ini uang dan harga-harga naik pada tingkat yang mengejutkan. Misalnya harga koran harian naik dari 0,30 Mark (mata uang jerman) pada Januari 1921 menjadi 1 Mark pada Mei 1922. Kemudian pada Oktober 1922 menjadi 8 Mark, menjadi 100 Mark pada Februari 1923, menjadi 1000 Mark pada September 1923.

Lalu, pada musim gugur 1923, harga benar-benar meroket : koran di jual seharga 2.000 Mark pada 1 Oktober, 20.000 mark pada 15 oktober. Bayangkan hanya dalam waktu dua minggu, harga telah naik 10 kali lipat. Akhirnya puncak hyperinflasi terjadi pada 17 November, dengan harga 70.000.000 mark (70 juta). Benar-benar SPEKTAKULER!

Dengan realitas dari dua kejadian di atas, yakni hyperinflasi Zimbabwe dan Jerman, seharusnya dua negara itu sudah lenyap ditelan harga. Tetapi tidak demikian. Buktinya kedua negara itu tetap eksis dan mampu keluar dari cengkraman ganas inflasi sang predator perekonomian.

Setelah melihat dua kejadian di atas, lantas muncul pertanyaan apa sebenarnya hyperinflasi itu? Mengapa bisa terjadi, dan apa akibatnya?

Pertanyaan ini dapat dijawab pada tingkatan yang berbeda. Jawaban yang paling pasti adalah hyperinflasi terkait dengan pertumbuhan jumlah uang beredar yang berlebihan. Ketika Bank Sentral mencetak uang, tingkat harga akan naik. Ketika Bank Sentral mencetak uang dengan cukup pesat, akibatnya adalah hyperinflasi. Untuk menghentikan hyperinflasi, Bank Sentral harus mereduksi jumlah uang yang beredar.

Akan tetapi, jawaban ini tidak tidak lengkap karena membuka pertanyaan baru, yaitu mengapa Bank Sentral dalam perekonomian yang sedang mengalami hyperinflasi memilih untuk mencetak begitu banyak uang?.

Untuk menjawab pertanyaan yang lebih dalam ini, kita harus mengalihkan perhatian dari kebijakan moneter ke kebijakan fiskal.

Sebagian besar hyperinflasi berawal ketika penerimaan pajak pemerintah tidak cukup untuk membayar pengeluarannya. Meskipun lebih suka mendanai defisit anggaran ini dengan berutang, pemerintah tidak dapat mengutang, barangkali para pemberi pinjaman memandang  bahwa pemerintah mempunyai resiko kredit yang buruk.

Untuk menutup defisit itu, pemerintah “terpaksa” menggunakan satu-satunya instrumen yang berada dibawah kendalinya, yaitu Mesin Pencetak Uang. Sudah terbayangkan apa jadinya, jika pemerintah terpaksa menggunakan instrumen ini? Ya, jumlah uang beredar akan semakin membludak, dan pada akhirnya hanya satu kata, HYPERINFLASI.

Begitu hyperinflasi muncul, masalah-masalah fiskal menjadi lebih berat dan semakin sulit. Karena ada rentang waktu dalam pengumpulan dan penerimaan pajak, maka penerimaan pajak riil menurun saat inflasi meningkat.

Jadi, upaya pemerintah untuk mengandalkan seigniorage hanyalah semata-mata untuk penguatan diri saja. Demikianlah ironisnya jika suatu negara telah masuk dalam jeratan inflasi yang akhirnya akan berujung pada hyperinflasi. Mending jika ada lembaga berupa IMF atau World Bank yang akan berbaik hati dengan meminjamkan sejumlah uang untuk menutupi defisit anggaran. jika tidak, bayangkan betapa sengsaranya negeri-negeri itu.

seigniorage adalah keuntungan yang diperoleh bank sentral dari selisih antara nilai nominal uang kertas yang diterbitkan dengan ongkos biaya produksi uang

Dengan pemaparan mengenai hyperinflasi tadi, tentu antum memiliki gambaran betapa sulitnya kebijakan yang harus dibuat dengan mempertimbangkan berbagai resiko dan trade off atau opportunity cost yang harus dikorbankan. So, jangan asal menghujat kebijakan, apalagi hujatan tanpa pijakan.

Untuk itu, bagi antum wan antuma sekalian yang masih kebablasan dalam mengkritik kebijakan pemerintah dan berujung pada hujatan, perbanyaklah membaca sejarah dunia karena jika antum hanya terus-terusan mengkritik pemerintah, pola pikir antum akan menjadi sempit dan dangkal. Saya rasa sekian dulu ulasan inflation in frame yang bisa saya sajikan. Baca juga ulasan negara terkaya di dunia sekaligus ulasan negara termiskin di dunia yang saya sajikan sebelumnya. Sekian Wassalam

About Author

Leave A Reply