Konflik Orang Tua VS Anak Seputar Pilihan Masa Depan

11

Hubungan orang tua dan anak yang diwarnai kehangatan memungkinkan anak memiliki kemampuan untuk dapat melibatkan diri dengan lingkungan sosialnya. Sebaliknya, hubungan yang dingin akan menyebabkan anak senantiasa menarik diri dari lingkungan sosialnya.

Sikap dan perlakuan orang tua yang toleran, permisif, turut terlibat dan penuh kehangatan merupakan manifestasi dari penerimaan orang tua terhadap anak. Sedangkan sikap dan perlakuan orang tua yang tidak toleran, keras, membiarkan dan dingin merupakan bentuk penolakan terhadap anak.

Demikianlah hubungan keharmonisan yang perlu dibangun dalam rangka meraih masa depan yang sukses bagi sang anak dan juga orang tua tentunya.

Baiklah Mari kita bahas seperti apa bentuk konflik yang ada dalam sebuah hubungan antara orang tua dan anak dalam menentukan pilihan terkait pencapaian di masa yang akan datang.
konflik orang tua dan anakAda dua faktor menarik yang sejatinya bisa mempengaruhi kehidupan anda, yaitu : Apa profesi yang anda geluti, dan dengan siapa anda menikah. Demikianlah dua faktor krusial yang akan menentukan seperti apa cerah dan kusamnya masa depan anda.

Profesi memang menjadi penentu utama masa depan finansial anda. Tak terbantahkan lagi bahwa tujuan orang menuntut ilmu adalah untuk kebebasan finansial yang diperoleh dengan berprofesi sebagai apa dan menerapkan ilmu apa.

Begitupun dengan pernikahan yang seharusnya menjadi titik awal kebangkitan anda dalam merajut masa depan.

Dan harus diakui, dalam dua keputusan krusial itu, sejumlah orang tua acap kali melakukan intervensi untuk menentukan apa yang harus dipilih.

Yang kemudian menjadi problem adalah saat pilihan orang tua dengan sang anak berbeda : baik profesi apa yang akan dipilih sang anak, dan jodoh yang ingin dijadikan pendamping hidup. Inilah yang kemudian menandai munculnya konflik orang tua dan anak dalam menentukan pilihan masa depan. Ketika profesi dipaksakan dan jodoh di titahkan disitulah dilema datang menghadang, dan disitu pula terkadang saya merasa sedih. πŸ™

Baiklah saya tidak akan mengulas lebih dalam tentang pernikahan dan jodoh, karena belum saatnya. Dikarenakan saya belum berpengalaman dan belum cukup ilmu, juga takut tidak mendapatkan jodoh yang ideal akibat menulis artikel ini. heheh

Terkait profesi, intervensi orang tua seringkali muncul dalam dua aspek kunci, dimulai dari pemilihan jurusan kuliah dalam pendidikan sampai dengan pemilihan karir anda. Disini saya akan berusaha memposisikan diri seobjektif mungkin, bukan hanya posisi saya sebagai anak, tetapi keinginan saya kelak jika dikarunia anak.

Dalam hal memilih jurusan kuliah, begitu banyak contoh dan kasus dimana terjadi perbedaan pendapat dan pandangan antara orang tua dan anak. Dan pada akhirnya sang anak harus mengalah demi tidak disebut anak durhaka.

Orang tua memang memiliki kewajiban untuk turut serta dalam menindak lanjuti setiap aspek kehidupan anaknya. Namun kewajiban tersebut sebatas peran untuk memberikan masukan dan nasihat berdasarkan pengalaman, agar sang anak tidak terjebak dalam pandangan dan prinsip hidup yang salah.

Bagaimana dengan pilihan, khususnya yang sedang kita bahas ini, pilihan terkait jurusan kuliah ?

Tak sedikit di dunia ini orang tua yang terjebak pada pola pikir masa lalu, peristiwa, dan pengalaman pahit yang kemudian direpresentasikan dalam bentuk tindakan intervensi berlebihan terhadap pilihan anak.

Inilah yang dalam sosiologi dinamakan dengan over control. Berlebihan dalam melakukan kontrol terhadap anak pada akhirnya akan kembali dipertanggungjawabkan kepada orang tua itu sendiri.

Kesalahan dalam memilih jurusan jangan pernah disepelekan. Mending tiga setengah tahun dalam dunia perkuliahan, tetapi jika lima tahun berada dalam jeratan mata kuliah yang sama sekali tidak diminati ? Bisakah anda bayangkan penderitaan yang harus dihadapi ? Belum lagi kehadiran “Dosen-Dosen Killer” yang seolah-olah siap mencabik-cabik jiwa anda kapan saja. hadeh πŸ™

Salahkan siapa jika kemudian Kuliah sang anak jadi keteteran, mata kuliah banyak yang mengulang, dan pada puncaknya semuanya menjadi sia-sia, Drop Out (DO).

Berbeda hal nya jika pilihan tersebut berdasarkan minat sang anak. Jika kemudian kuliah keteteran dan mata kuliah banyak yang mengulang, orang tua akan punya amunisi untuk melakukan serangan kejutan. πŸ˜€

Disini saya tidak akan melihat siapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan.

Banyak juga kok diluar sana anak-anak yang sukses dalam dunia perkuliahan sesuai dengan pilihan yang diberikan orang tua. Kesuksesan tersebut tidak lain akibat relevansi yang ideal antara minat dan bimbingan orang tua.

Intinya, pendelegasian tanggung jawab dari orang tua ke anak itu perlu untuk membangun keharmonisan dalam hubungan anak dan orang tua. Jika kemudian orang tua telah memberikan kepercayaan dan kebebasan bagi anaknya dalam bertindak, khususnya menentukan pilihan, itu artinya tanggung jawab sang anak akan semakin besar.

Dan hanya anak yang goblok alias bahlul yang akan mengkhianati kepercayaan dan lari dari tanggung jawab itu. Pesan saya untuk para orang tua termasuk diri saya yang kelak akan menjadi orang tua,Β ketahuilah, memaksakan kehendak pribadi pada pilihan hidup anak mungkin bukan langkah yang bijak.

Jauh lebih elegan jika orang tua hanya memberikan pandangan mengenai kelebihan dan kekurangan sebuah opsi (entah opsi itu adalah jurusan kuliah atau pilihan profesi). Lalu menyerahkan sepenuhnya pilihan kepada anak Anda.

Dan kemudian jika pilihan itu sudah diambil oleh sang anak, tugas orang tua hanyalah memberikan persetujuan berupa dorongan moral, motivasi, restu dan doa bagi keberhasilan sang anak. Pada akhirnya masa depan yang cerah siap menanti sang anak yang tentunya akan membawa kebahagiaan bagi orang tua. that’s happy ending forever

Penutup dari saya dalam tulisan kali ini, marilah kita renungi sebuah kata bijak dari manusia bijak yang pernah saya kenal, namun sayang tak pernah berjumpa dengannya, Kahlil Gibran. πŸ˜€

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup, melesat pergi.

(tulisan diadaptasi dari blog strategimanajemen)

About Author

11 Komentar

  1. annisa kamaliah on

    so, apa yang harus kita lakukan jika pilihan kita bertentangan dgn ortu? baik u/ urusan pendidikan/asmara? sejujurnya saya masih sangat takut dalam mengambil tindakan pd akhirnya.. dan ketika ortu bersihkeras mempertahankan keinginannya, apakah kita hrs menjalaninya?

    tulisan ini benar2 sangat menampar.

    • Fariz Gobel on

      untuk masalah asmara saya masih angkat tangan..
      untuk pendidikan,,coba berikan masukan dan argumen yang benar2 mendukung pilihan anda πŸ™‚
      jika belum berhasil bacakan syair kahlil gibran diatas..insyaallah manjur πŸ˜€

  2. Remaja sebagian besar dapat memahami konflik yang timbul antara orang tua dan remaja, hanya sebagian kecil yang tidak memahami tentang konflik yang terjadi. Sebagian orang tua menyelesaikan konflik dengan orientasi kepatuhan terutama untuk masalah pilihan sekolah dan masa depan anak.

  3. Lg debat ama ortu…ngasih saran masuk STAN .tp gue minatnya di broadcast dan budaya-budaya gitu ”? .dilemaaaaaaa

    • Fariz Gobel on

      coba jelasin ke ortu tentang minat kamu di dunia broadcast itu plus hal-hal positif yang bisa kamu dapatkan jika masuk ke dunia broadcast πŸ™‚

  4. Kalo ortu aku sih ngasih aku kebebasan mau milih jurusan apa, tapi sampai saat ini aku sendiri masih bingung mau ambil jurusan apa? boleh dong kak kasih masukannya. makasih..

  5. titami seprianti on

    masih kepikiran aja, orang tua nyaranin ngambil jurusan kebidanan tapi saya maunya jurusan manajemen. dan akhirnya diputuskan masuk manajemen. apa itu termasuk anak yang durhaka?

  6. Gue maunya masuk fakultas teknik itb!
    Eh ibu gue ingin gue masuk ke fakultas tarbiyah dan keguruan uin sgd.
    Gue coba meyakinkan ortu gue tapi suasana dan keadaannya kurang mendukung.

  7. cumplung on

    hidup lu pada enak ya….hebat….
    skdar saran, lu coba nyari duit dg cara lu masing-masing , trus udah dapet duit nya,lu kasih ma ortu..dan lakukan secara terus-menerus…dijamin ortu pasti patuh sama lu semua, dan gak ada yg namanya debat masalah jurusan lagi… hahahaha xD…

  8. Pengennya sekolah sma,tpi ibu saya suruh saya di ponpes.katanya saya ada bakat buat menghafal.tapi satu sisi saya juga masih pengen main diluar bareng temen-temen…jadi bingung

Leave A Reply