Kunci Sukses Bisnis Franchise

2

Tulisan kunci sukses bisnis franchise ini merupakan lanjutan dari pembahasan saya sebelumnya terkait bisnis properti. Karena keduanya merupakan jenis bisnis yang saat ini sedang mengalami kenaikan pangsa pasar, dan semoga saja ini bukan euforia belaka.

Saat ini Bisnis Franchise Atau Waralaba sedang menjamur bak cendawan dimusim hujan. Dimana-mana terdapat Bisnis Franchise dari kelas kecil dengan modal ratusan ribu sampai dengan kelas besar dengan modal puluhan juta bahkan milyar.

Akan tetapi dari sekian banyak bisnis Franchise terdapat juga yang gulung tikar alias Pailit saudara kembarnya Bangkrut, dan jumlahnya makin hari makin bertambah saja.

Inilah kemudian kenapa harus ada kunci sukses dalam berbisnis franchise.

Secara general, baik konseptual maupun kontekstual, setiap elemen bisnis harus menghasilkan yang namanya kesuksesan. Meskipun makna kesuksesan itu memiliki banyak perspektif, namun intinya adalah bagaimana kemudian sebuah bisnis mampu menghasilkan manfaat baik utilitas maupun materiil, atau bahasa kerennya profit dan bahasa syariahnya maslahah.

kunci sukses bisnis franchise

Tak bisa dipungkiri semua bisnis menghendaki itu, tak terkecuali bisnis franchise yang akan saya coba kupas dalam artikel ini, semoga anda dapat melihat bagaimana isinya.

Binis franchise alias waralaba kenyataanya bukanlah sekedar berbagi usaha dan merek dagang. Bisnis ini bahkan memiliki substansi yang lebih penting dari hanya “menjual” usaha dan mengambil fee dari pewaralaba.

Salah seorang CEO Franchise Research & Strategy Institute Inc, Akihiko Uchikawa mengatakan bahwa franchise merupakan model bisnis konsorsium senasib yang dapat terus membangun hubungan eksistensi bersama dan kesejahteraan bersama berdasarkan pembagian peran dan pelaksanaan tanggung jawab antara kantor pusat dan gerai anggota.

Franchise atau yang lebih dikenal dengan bisnis waralaba yakni sebuah bisnis yang telah berstandar baku dan telah teruji keberhasilan produknya. Sistem ini dijual lisensinya kepada orang lain dengan imbalan uang kepada pemilik bisnis. Pemilik bisnis atau franchisor akan memberikan fasilitas berupa produk beserta segala alat yang dibutuhkan franchisee dalam pemasaran produknya, sehingga franchisee tidak harus memulai bisnisnya dari nol.

Kita semua tahu bahwa yang namanya franchise merupakan suatu bentuk kerjasama antar dua pihak, dalam hal ini kantor pusat (franchisor) yang memiliki hak merek dagang, dan gerai anggota (Franchisee) atau pihak yang menggunakan hak eksklusif tersebut untuk kemudian dibisniskan.

Semua kerjasama tersebut berdiri diatas poros yang disebut Kontrak Bisnis dan tidak lepas dari ikatan batin. Kontrak bisnis dalam franchise seharusnya tidak hanya bentuk “hitam diatas putih”. Asas legalitas dan kesepakatan dalam sebuah kontrak bisnis memang suatu keharusan. Namun apakah esensi dari kontrak tersebut sebenarnya?

Ini merupakan hal fundamental yang seharusnya menjadi kesepakatan dan kesadaran bersama. Bahwa legal dan sahnya suatu kontrak bukan hanya kemudian menjadi dokumen yang siap dimuseumkan. Esensi dari kontrak yang sebenarnya adalah Responsibility.

Responsibility atau tanggung jawab menurut hemat saya merupakan esensi yang harus dihidupkan lagi oleh para kontributor bisnis franchise baik kantor pusat maupun gerai anggotanya agar dapat mengurangi tingkat “gulung tikar” bisnis ini.

Peran Penting Franchisor (Kantor Pusat)

Dalam bisnis waralaba, kantor pusat memiliki peran yang sangat penting. Kantor pusat memikul nasib kehidupan anggotanya (yang merupakan usaha perorangan). Karenanya, kantor pusat merupakan bisnis hebat yang bertanggung jawab atas fungsi dan perannya dalam mendukung anggota.

Dengan kata lain, kantor pusat juga harus mampu memberikan layanan tanggung jawab berupa konsultasi secara total dan terintegrasi.

Layanan konsultasi tersebut misalnya kantor pusat harus menentukan lokasi dan tempat pembukaan gerai anggota, sekaligus mendesain gerai yang fungsional dan mengatur konstruksinya dengan biaya rendah.

Hal yang sangat disayangkan adalah jika kemudian ada pihak kantor pusat yang lepas tangan dengan tahapan dan proses bisnis anggota. Yang penting ada setoran dan fee, mereka akan lepas tangan dan apatis. Inilah yang harus dihindari dan menjadi pembelajaran bagi kelangsungan bisnis franchise selanjutnya.

Seperti kata Akihiko, bahwa Franchise merupakan konsorsium senasib. Artinya didalamnya mengandung ikatan batin antar franchisor dan franchisee untuk saling mendukung dan bertanggung jawab.

Peran kantor pusat selanjutnya adalah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk pemilik gerai dan pegawainya.

Saya yakin anda pernah mengalamai hal semacam ini, berbelanja ke suatu mini market dan mendapati kasir atau pegawai yang sangat jutek, muka datar, dan tanpa senyuman sama sekali. Seakan dia sedang mengalami problematika kehidupan yang sangat kompleks.

Dengan fenomena ini, siapa kemudian yang dapat disalahkan? Tak ada dan bukan salah siapa siapa.

Namun saya hanya ingin menegaskan bahwa esensi dari bisnis franchise adalah nilai jual (Sale Value). Sale Value tersebut merupakan milik franchisor, dan dijual oleh franchisee kepada customer. Sekarang pertanyaannya, jika anda sebagai franchisor (kantor pusat yang memiliki merek atau lisensi), apakah anda siap kehilangan customer yang takut berbelanja lagi ke mini market yang memiliki merek anda?

Jika anda menjawabnya dengan “ah hanya satu customer kok, gak masalah”. Maka anda telah berada dalam masalah.

Jangan salah,  customer memiliki kekuatan lisan berupa efek domino. Jika ia mengalami kekecewaan, ia akan menceritakan kekecewaanya kepada sahabat dan orang terdekatnya dengan variasi kekecewaan yang dilebih-lebihkan. Akibatnya? Anda akan kehilangan lebih dari satu customer.

Disinilah pentingnya pendidikan dan pelatihan oleh kantor pusat kepada pemilik gerai dan pegawainya, Bahkan untuk hal-hal kecil semacam tadi.

Demikianlah peran kantor pusat dalam rangka membangun tanggung jawab dan kerjasama dengan anggota.  Dengan pola dan peran penting tersebut, tidak ada model bisnis lain yang benar-benar berguna untuk dunia dan manusia selain konsep Franchise.

Selanjutnya bagi anda yang memiliki niat dan baru akan memulai bisnis ini dan ingin menjadi franchisee alias anggota, ada beberapa aspek yang perlu anda perhatikan. Saya tidak menyebut franchisor karena untuk menjadi pebisnis sekelas franchisor anda harus memilki modal yang tak kecil, dan tentunya anda harus memiliki hak eksklusif berupa lisensi dan merek dagang yang siap dibisniskan dan dipersaingkan.

Tips Menjadi Franchisee (Anggota Waralaba)

1. Anda Bukan Tipe Orang Yang Kreatif

Maaf bukan menakut-nakuti orang yang memiliki kreativitas tinggi, namun menurut saya jika anda memang tipe orang kreatif, jangan terjun ke dunia ini. Why?

Sebuah franchise atau waralaba biasanya mewajibkan keseragaman. Mulai dari dekorasi toko, papan reklame, produk yang ditawarkan sampai seragam pelayannya harus sama. Untuk orang yang menyukai kreatifitas, ini bisa membuat frustasi.

Jadi, jika anda yang terbiasa menjadi bos bagi diri sendiri, keseragaman ini mungkin cukup sulit dilakukan. Mungkin anda tidak cocok untuk berbisnis franchise atau waralaba.

2. Financial Power

Anda harus punya modal, dan ini merupakan keharusan. Rata-rata untuk memulai bisnis ini anda harus bermodalkan setidaknya 4 milyar (dikutip dari finance detik).

Woow. Tentunya itu bukanlah jumlah yang main-main. Kenapa kemudian bisa sebesar itu?

Modal awal dan franchise fee bisa sangat mempengaruhi laba penyewa bisnis waralaba. Sebagai contoh, jika anda ingin membuka waralaba McDonald’s (Mohon izin menggunakan merek), anda harus punya lokasi sendiri (sewa maupun milik). Lokasi inilah yang biasanya menjadi kendala. Apalagi jika harus membuka bisnis didaerah strategis seperti Jakarta dengan sewa lokasi yang harganya selangit.

Belum lagi royalti waralaba sekitar Rp 405 juta (US$ 45.000) untuk memegang hak waralaba selama 20 tahun, setelah masanya habis maka bisa diperpanjang.

So, bagi anda yang belum memiliki true financial power seperti ini, lebih baik mencari peluang bisnis lainnya, menjadi Blogger mungkin bisa menjadi pilihan. 🙂

Itulah dua hal yang menurut saya pondasi yang harus anda miliki sebelum masuk ke arena bisnis franchise. Anda harus memilikinya jika tidak ingin menjadi bagian dari mereka yang “gulung tikar”.

Baca juga ulasan menarik saya lainnya tentang negara terkaya di dunia dan negara terkecil di dunia.

Saya rasa cukup sekian ulasan yang bisa saya berikan, semoga mampu menambah wawasan anda dalam dunia bisnis dan perkembangan ekonomi. Saya hanyalah seorang teoritis dan bukan praktisi, sehingga segala sesuatu yang saya sampaikan adalah theorytical approach-Berdasarkan pendekatan teori. Semoga bermanfaat 😀

About Author

2 Komentar

Leave A Reply