Mencegah Anomali Sekaligus Distorsi Mahasiswa Tahun Terakhir

8

Dunia perkuliahan memang selalu dihiasi dengan berbagai dinamika dan eksistensi diri. Mahasiswa akuntansi contohnya. Memasuki semester pertama penuh dengan kegalauan tingkat dewa.

Ada yang masuk karena paksaan (rata-rata paksaan orang tua), ada yang “salah jurusan” (entah kenapa mereka bisa salah), namun ada juga yang benar-benar mahasiswa akuntansi (akuntan tulen) tanpa paksaan dan kesalahan.

Bukan hanya di jurusan akuntansi, namun hampir disemua jurusan fenomena “paksaan” memang menjadi momok yang menakutkan bagi para dosen. Berbagai strategi kemudian diterapkan. Alhasil para dosen kemudian berkumpul, dalam sebuah aliansi yang mereka sebut “Aliansi Para Petinggi”, dengan hashtag #savemahasiswa.

mencegah anomali sekaligus distorsi mahasiswa tahun terakhir

Sekian lama merenung dan berkumpul “aliansi para petinggi” ini kemudian melakukan analisis dan hipotesis.

Kebijakan perlahan diterapkan, mulai dari “belajar kelompok” yang esensinya untuk belajar malah disalah gunakan oleh para mahasiswa (ngerumpi, main ps, atau sekedar ngobrol ngarol ngidul), Strategi “mengunjungi perpustakaan” untuk menambah wawasan dan memperkaya materi kuliah malah digunakan mahasiswa untuk sekedar “ngadem” atau tidur-tiduran.

Lantas bagaimana mengatasi fenomena ini? Ketika kebijakan telah diterapkan malah hasilnya nihil. Saya kira tak perlu menggunakan kebijakan “paksaan” karena segala sesuatu pasti akan berjalan sesuai kaidah naturalnya. Hasilnya bisa dilihat ketika mau UTS (Ujian Tapi Santai) ataupun UAS (Ujian Akhir Setelah – itu liburan).

Jangan heran, jika perpustakaan penuh dan kelompok belajar tersebar dimana-mana. Inilah SKS (Sistem Kebut Semalam) ala mahasiswa. Semua itu dilakukan dengan dengan satu tujuan yang terpatri dalam jiwa mencapai IPK (Indeks Popularitas berKelas).

Fenomena yang lucu dan menggelikan memang.

Mari kita ke topik pembahasan. Saya menuliskan judul artikel ini menggunakan kata “anomali” (bukan bahasa fisika) karena saya bukan dari jurusan yang terkenal “kejam” itu.

Anomali disini berarti “keganjilan”. Selanjutnya saya menggunakan kata “Distorsi” (bukan distorsi ruang dan waktu yang ada dalam film Interstellar). Distorsi disini bermakna “penyimpangan”.

Seperti apa anomali dan distorsi mahasiswa tahun terakhir? sebelum itu mari kita renungkan tingkatan mahasiswa berdasarkan standar umum dengan variabilitas independentnya adalah “tahun masuk”.

Tahun Pertama

Mahasiswa tahun pertama, biasanya masih beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, biasanya pakaiannya lumayan rapih, biar pencitraannya bagus gitu, apalagi di hadapan lawan jenis.

Karena bertemu temen-temen baru, masih suka jaim, belom ketauan belang-belangnya. Tahun pertama adalah waktu untuk membangun pencitraan.

Kalo soal kuliah, biasanya masih semangat-semangatnya. Semua buku dibawa, dari buku wajib (yang asli impor, harganya 800 ribu), buku suplemen dari perpus, catatan, dan laptop. Lengkap deh

Tahun Kedua

Di tahun kedua ini biasanya lagi betah-betahnya di kampus, tapi bukan untuk kuliah. Setelah mengerti trik-trik ampuh “titip absen” dan “cabut kuliah”, anak-anak tahun kedua ini mulai menyadari kalo kuliah cuma masuk kelas doang itu nggak asik.

Mereka mulai aktif di organisasi, ikut kepanitiaan acara ini itu, gabung di perkumpulan mahasiswa, masuk klub olahraga kampus, ikut seminar dan bejibun kegiatan lainnya.

Biasanya mereka dateng pagi ke kampus. Terus setor muka sama absen di kelas sebentar, abis itu mulai sibuk rapat, team building, seminar ini itu.

Penampilan juga udah nggak serapih tahun pertama. Udah mulai akrab sama temen-temen baru, gebetan juga udah dapet, jadi mulai cuek.

Tahun ketiga

Di tahun ketiga, biasanya mahasiswa kategori ini jarang kelihatan di kampus. Bukan karena bolos, tapi jadwal kuliah biasanya udah nggak sepadet 2 tahun pertama. Kalo dulu bisa tiap hari masuk, sekarang bisa cuma 3-4 hari ada kelas.

Kepanitiaan dan organisasi juga udah nggak se-intense tahun kedua. Karena udah senior, jabatan yang dipegang juga lebih tinggi. Jadi kerjaannya udah nggak ribet waktu masih jadi staf biasa.

Tahun ke empat

Ini dia masa yang identik dengan skripsi atau tugas akhir. Dan segala aspek kehidupan mahasiswa di tahap ini, semuanya dipusatkan ke skripsi tersebut.

Walaupun kelas tinggal 1 atau bahkan enggak ada, mereka tiap hari nongol di kampus, entah ngetik di perpustakaan ditemani dengan 2 buku yang dibuka plus beberapa fotokopian jurnal atau ngejar-ngejar dosen pembimbing layaknya wartawan mengejar artis dan publik figur.

Gizi mahasiswa tahun ke empat ini biasanya juga buruk, karena stress mikirin skripsi. Muka-mukanya biasanya beler gara-gara kurang tidur atau bete gara-gara skripsinya abis diacak-acak sama dosen pembimbing.

Last But Not least, masih ada lagi Tahun ke lima dan seterusnya (entah sampai kapan)

Kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan kita. Di dunia kuliah pun sama. Setelah 4 tahun berjuang keras supaya bisa lulus cepet, ternyata ada saja hal yang bisa menghalangi.

Mulai dari ada kelas yang nyangkut, atau dosen pembimbing sensi sama kita, jadinya nggak dilulus-lulusin. Dengan terpaksa, ada beberapa mahasiswa yang harus berevolusi ke mahasiswa semester 9 (dan seterusnya)

Jenis yang satu ini banyak ragamnya. Ada yang makin jarang ke kampus karena sibuk sama kerjaan lain (atau udah bodo amat sama kuliahan). Ada yang masih rajin ke kampus karena masih banyak kelas yang belum lulus. Ada juga yang nyangkut di perpustakaan, berusaha keras menyelesaikan tugas akhir yang susahnya setengah mati.

Ada juga gak jelas ngapain, tapi tiap hari ke kampus, dianggap tetua, trus hobinya gangguin juniornya. Walaupun jenis ini beraneka ragam, mereka punya sebuah kesamaan, yaitu sebuah alergi pada 2 kata : “Kapan lulus ?”

Berangkat dari tingkatan inilah saya akan memberikan tips kepada mahasiswa tahun terakhir (4, 5, 6, 7 dan seterusnya) agar tidak terjadi anomali dan distorsi dalam perkuliahan. Karena pada dasarnya tak ada gading yang tak retak.

Tak ada superhero yang tak punya kelemahan. Superman takut krypronite, Samson akan lemah jika rambutnya dipotong, Wolverine akan kabur begitu melihat magnet. Bahkan seorang Doctor Manhattan, yang kekuatannya nyaris setara Tuhan karena dapat menghentikan waktu dan berjalan di atas matahari, juga memiliki ketakutan aneh: takut terhadap kekuatannya sendiri.

Karena sejatinya meskipun Maha-siswa kita hanyalah manusia yang tak luput dari berbagai kesalahan dan begitu banyak kelemahan.

Meskipun anda, wahai para mahasiswa tahun terakhir bisa dibilang lama lulusnya, namun itulah keindahan yang akan anda kenang selama menjadi “mahasiswa”. Fokus pada tujuan utama anda yaitu “harus lulus”. Ya satu-satu nya jalan adalah bagaimana kemudian kalian bisa menyelesaikan “skripsi”

Berikut tipsnya…..yang diadaptasi dari tulisan di mojok.co

1. Sadarilah satu hal : Dosen Pasti Senang Mencoret Coret Naskah Anda

Eksistensi dosen itu berdiri di atas dua hal: ketika di depan kelas memberi kuliah dan mencoret-coret makalah atau skripsi. Jadi, jangan tersinggung. Hadapi dengan sikap mental: begitulah yang namanya dosen.

2. M2T (Mendengar, Mengangguk, Tersenyum)

Jika Anda diceramahi soal kekeliruan naskah skripsi Anda, jangan sekali-kali membantah. Anda cukup pura-pura serius mendengarkan, pura-pura mengangguk seperti paham, dan tersenyumlah seakan Anda menerima masukan dengan cara positif.

Segalak-galaknya dosen pembimbing skripsi jika Anda berperilaku seperti itu, maka ceramah dosen tidak lama. Dosen juga manusia.

3. Prepare Your Good Performance – Siapkan Penampilan Terbaik Anda

Anda boleh jarang mandi dan berpakaian berantakan. Tapi saat konsultasi skripsi, usahakan Anda mandi, memakai pakain yang rapi dan menyemprotkan minyak wangi. Penampilan Anda yang segar akan berpengaruh besar terhadap sikap dosen kepada Anda. Percayalah.

4. Bawakan buah-buahan dan kue atau buku.

Eits, ini bukan menyuap. Jelas bukan gratifikasi. Ini cara Anda menyatakan bahwa Anda peduli dan perhatian dengan Sang Dosen.

Pilih buah-buahan dan kue yang punya aroma segar dan menarik dilihat. Kalau dosen tersebut suka keris, misalnya, bawakan dia buku tentang keris. Hal itu akan membuat mood dosen Anda baik. Bila perlu bawakan kerisnya sekalian bila memang harus.

5. Dosen Juga bisa Lupa

Merevisi semua masukan dan coretan dosen hanya akan menghabiskan waktu dan membuat Anda stres. Misalnya dicoret 10 poin, Anda cukup merevisi lima atau tiga saja.

Lalu perlihatkan tiga revisi anda.Jarang ada dosen yang melihat semua hasil coretannya. Jangan lupa, dosen adalah profesi yang lumayan sibuk.

Jangan-jangan sebetulnya dia juga lupa atas apa yang pernah dia coretkan ke skripsimu. Kalau kemudian dia sempat melihat ada poin yang belum kamu revisi, cukup minta maaf dan bilang bahwa poin itu terlewat. Kemudian berjanjilah melakukan revisi lagi. Padahal tentu saja tidak perlu Anda lakukan.

6. Semuanya Pasti Berlalu

Berapa lama sih konsultasi dan dikritik dosen pembimbing? Paling lama sejam. Berapa lama sih ujian skripsi dan dibantai dosen penguji? Paling lama 3 jam. Dan semua akan berlalu. Akan lewat menjadi masa lalu. Jadi tenang saja.

Selanjutnya tinggal berjuang untuk mempertanggung jawabkan skripsi anda. Dan siap menghadapi babak baru dalam kehidupan, “Kesulitan mencari pekerjaan”. Karena sejatinya ini yang maha sulit dibandingkan kuliah.

Demikian tulisan pendidikan yang bisa saya sajikan, dan nantikan ulasan-ulasan berikutnya hanya di website mungil nan maknyus ini.

About Author

8 Komentar

  1. Slamet Wahyudin on

    Keren banget bang.
    Inspiratif buat kawan-kawan yang masih berjuang untuk lulus.
    Prinsip saya dulu ‘Adu Kuat Lawan Bosen’. Kalau saya yang tidak kuat trus jadi bosen ketemu dosen dan ngurus skripsi, saya kalah dan tidak akan lulus. Tapi, kalau dosennya yang tidak kuat trus jadi bosen ketemu saya, ntar juga dilulusin. Jadi, jangn bosen-bosen ketemudosen sampe dosennya bosen ketemukita. Dosen juga manusia.

    • Fariz Gobel on

      sipp makasih bang udah komentar di website saya hehe 🙂
      wah sepertinya udah mantan mahasiswa nih yaa 😀
      bisa juga tuh prinsipnya….I’ll try

Leave A Reply