Mengenal Broker Properti

0

Ketika anda berinvestasi dengan cara membeli rumah lalu kemudian menjualnya, maka pilihannya adalah menjual secara langsung atau melalui broker, right?

Pilihan pertama membebaskan anda dari komisi yang harus anda keluarkan, sedangkan pilihan yang kedua membuat anda harus rela menyisihkan komisi kepada para broker. Lalu pertanyaannya berapa besarnya komisi tersebut?

Berdasarkan pada peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 33/M-DAG/PER/8/2008 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti telah menetapkan besaran komisi untuk broker properti minimal 2 persen dari nilai transaksi.

mengenal broker properti

Namun demikian, biasanya masing-masing broker akan mengenakan besarnya standar komisi tergantung kepada nilai transaksi harga jual.

Sejatinya Broker merupakan orang atau institusi yang berada di antara penjual dan pembeli. Di beberapa bisnis, kehadirannya dianggap negatif karena seringkali membebani biaya dan membuat harga tidak kompetitif lagi.

Zaman dulu di dunia broker properti juga dipandang negatif. Mereka adalah calo-calo tanah yang menitipkan komisi di tuan tanah dengan menaikan harga berlipat-lipat.

Akibatnya, harga tanah menjadi mahal dan merugikan si pembeli. Hal semacam ini masih melekat dalam benak beberapa penjual dan pembeli properti tradisional yang merasa bahwa mereka dirugikan oleh kehadiran broker.

Namun, broker di dunia properti modern memegang peranan yang penting. Dengan semakin kompleksnya dunia properti, broker bisa menjadi penasihat yang baik.

Bagi pemilik rumah maupun calon pembeli, keterbatasan jangkauan informasi yang mereka miliki dan sulitnya meraih eksposur  (resiko kemungkinan kerugian) yang luas terhadap informasi properti merupakan tantangan. Disinilah broker memegang peranan. Biasanya broker memiliki akses yang luas terhadap calon penjual dan pembeli, sehingga dia bisa memberikan saran jitu kepada kita.

Dari sisi biaya promosi, adanya broker dapat menghemat biaya tersebut. Kenapa? Karena beberapa broker ada yang memegang kontrak beriklan di media sehingga mereka bisa membantu mengiklankan properti kita. Dengan kesepakatan yang dibuat, biaya iklan pun menjadi lebih murah, dan sebagai calon penjual, kita akan dengan mudah mendapatkan pembeli.

Selain itu, broker juga berperan sebagai mediator dalam negosiasi antar penjual dan pembeli. Seringkali, ada orang-orang yang tidak pandai bernegosiasi secara langsung. Disinilah broker bisa menjadi pihak yang menyeimbangkan kedua belah pihak.

Broker juga menjadi tempat untuk komplain apabila ada salah satu pihak yang merasa tidak puas terhadap pihak lain. Mereka juga bisa membantu kita melakukan hal-hal yang menjengkelkan seperti urusan-urusan administrasi.

Tentu saja, broker yang ideal adalah seperti yang digambarkan diatas. Selain itu, banyak juga broker tradisional dan “abal-abal” yang kerjaannya hanya membantu mencarikan pembeli, sekedar menaruh papan nama, berharap pembeli tiba-tiba datang, langsung deal dan setuju dengan harga yang ditawarkan. Selebihnya tinggal urusan bagi-bagi komisi.

Broker yang baik adalah broker yang aktif. Selain itu mereka juga memiliki akses luas dan bisa membangun relationship yang baik. Sebagai penjual maupun pembeli rumah, anda harus memahami bahwa broker bukan hanya sekedar pemasang papan nama.

Keaktifan serta pelayanannya harus dievaluasi. Jangan sampai anda mengundang begitu banyak agen properti untuk memasang papan nama di properti anda sehingga membuat eksposur properti itu tidak efektif.

Demikianlah penjelasan singkat bagaimana sistematika dan kriteria Broker Properti yang seharusnya menjadi mitra kerja anda dalam melakukan transaski bisnis properti. Sekian, wassalam!

(beberapa istilah seperti eksposur dan kriteria broker yang baik dikutip dari majalah property-in)

About Author

Comments are closed.