Bermodal Paha Dan Dada Omzet KFC Menembus Angka 5 Triliun

0

Hegemoni fastfood ala american memang telah menjadi corak kuliner ala nusantara hingga saat ini. Bukan hanya di kota metropolitan sekelas Jakarta saja, namun di berbagai kota lainnya di Indonesia, ekspansi kuliner barat memang sangat apik dan cukup powerful untuk menggulung-tikarkan para pelaku bisnis lokal.

Siapa yang tak mengenal KFC? Jangankan tidak mengenalnya, entah sudah berapa banyak uang yang kita habiskan untuk paha dan dada di gerai kuliner amrik itu.

Tentu kita tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Sebab di era yang penuh liberalisasi ini, siapapun layak untuk menjadi pemenang meskipun itu branding asing yang menjadi primadona di negeri sendiri.

Sehingga tidak mengherankan jika gerai kuliner paha dan dana amrik milik PT Fastfood, Tbk tersebut sukses meraih omzet hingga 5 triliun rupiah pada akhir kuartal 2015 kemarin. Fantastik!

Lalu apa rahasia KFC hingga bisa meraih omzet yang begitu masif bahkan senantiasa mengalami kenaikan yang signifikan setiap tahunnya?

# Supply Chain Management

Ekspansi bisnis KFC yang menjadikannya sebagai salah satu branding gerai fenomenal cukup untuk mengajarkan kepada para pelaku bisnis lokal, kalau anda ingin melakukan eskpansi bisnis dengan kecepatan penuh, maka mutlak anda harus membangun sistem bisnis yang terotomatisasi.

Kalau kita amati, ekspansi bisnis KFC seakan begitu mudah semudah melakukan “copy-paste”. Itulah sistem bisnis replikasi yang diajarkan KFC.

Untuk memudahkan pembuatan gerai baru, maka prosesnya harus semudah melakukan copy-paste. Untuk melakukan hal tersebut, KFC mengoptimalkan supply chain management atau manajemen rantai pasokan.

Sistem supply chain management KFC sangat handal, sehingga setiap proses bisnis akan berjalan tanpa cacat sedikitpun. Kompetensi distribusi dan logistik yang dahsyat, Sistem bisnis otomatis yang terstandar dan konsisten, serta pelayanan produk yang baik kepada customer membuat Branding KFC berada di atas awan.

Pelaku bisnis lokal harus belajar dari KFC jika ingin menang dalam kompetisi Masyarakat Ekonomi ASEAN.

# Branding

Di era digital seperti saat ini, branding menjadi kekuatan yang tak terbantahkan. KFC, Mcd, dan Starbucks mungkin bisa kita jadikan pelajaran bagaimana mereka membangun bisnis, menanamkan branding, dan pada akhirnya meraih kepercayaan konsumen.

KFC mislanya memiliki desain template yang wajib diikuti oleh setiap gerainya. Mulai dari interior design hingga gambar logo dijalanan dan berbagai tatanan lain yang mungkin terlihat sepele.

Konsistensi branding seperti itu yang membuat brand mereka menjadi legenda. Kekuatan brand seperti ini yang mungkin membuat pihak pengelola Bandara di tanah air, mall, rest area dan berbagai wahana bisnis lainnya selalu memprioritaskan KFC, dkk.

Branding bukan soal rasa, tapi soal nama. Ayam goreng bu Surtini atau pak Suparno mungkin jauh lebih lezat dibandingkan rasa ayam goreng KFC. Tapi KFC telah memiliki nama dan identitas. Dan identitas adalah ciri khas yang sangat powerful di era digital seperti saat ini.

# Indonesia Middle Class Explosion

KFC mungkin cukup jeli melihat peluang berupa ledakan kaum kelas menengah (Middle Class Explosion) di negeri kita. Saat kelas menengah yang cukup mampu ini mengalami eksplosi, maka pasti konsumsi produk kuliner akan melesat.

Momentum tersebut dimanfaatkan KFC untuk merancang sistem bisnis yang sesuai dengan selera dan kapasitas The middle class citizen. Dan memang mereka (KFC) sukses mendapatkan perhatian di hati masyarakat kita.

Pada akhirnya, KFC sukses menutup buku pada akhir 2015 dengan total omzet 5 Triliun rupiah. Sebuah kenyataan pahit yang cukup miris untuk membuktikan bahwa masyarakat kita telah terhipnotis untuk lebih menyukai Paha dan Dada Internasional ketimbang paha dan dada lokal. !!

About Author

Leave A Reply