Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

0

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pungutan yang dikenakan atas transaksi jual atau beli (konsumsi) barang kena pajak (BKP) dan jasa kena pajak (JKP).

Sebelum membahas lebih jauh tentang PPN, saya akan memberikan penjelasan singkat tentang BKP dan JKP berdasarkan ketentuan Undang-Undang.

Semua barang pada prinsipnya merupakan Barang Kena Pajak (dikenakan PPN) kecuali yang ditentukan lain oleh Undang-Undang Nomor PPN itu sendiri. Menurut pasal 1 angka 3, Barang Kena Pajak adalah barang yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang ini (UU No. 42 Tahun 2009). Barang Kena Pajak tersebut terdiri dari barang berwujud (bergerak dan tidak bergerak) dan barang tidak berwujud.

pajak pertambahan nilai

Adapun barang-barang yang TIDAK KENA PPN tersebut adalah barang hasil pertambangan yang diambil langsung dari sumbernya (minyak mentah, gas bumi, panas bumi, batu bara sebelum diproses, bijih besi, bijih timah, dan bijih emas), dan Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak. Untuk lebih lengkapnya silahkan cek dalam UU No. 42 Tahun 2009.

Dengan demikian, semua barang selain yang disebutkan di atas, akan dikenakan PPN dengan tarif 10%.

Kemudian, Jasa Kena Pajak (JKP) diatur dalam UU PPN 1984 dimana aturannya sama dengan BKP, bahwa semua jasa pada dasarnya kena pajak kecuali yang dikecualikan oleh UU tersebut.

Jasa yang tidak kena PPN diantaranya Jasa di bidang pelayanan kesehatan medis seperti jasa dokter umum,dokter spesialis, dan dokter gigi, jasa dokter hewan, jasa ahli kesehatan seperti akupuntur, ahli gigi dan fisioterapi, dan lain-lain. Jasa bidang pelayanan sosial, jasa asuransi, jasa bidang pendidikan, dan lain sebagainya.

Nah selanjutnya yang perlu kita ketahui dalam PPN adalah bahwa PPN itu terdiri dari dua jenis, ada yang namanya PPN Masukan (Prepaid Tax) dan PPN Keluaran (Tax Payable). Bagaimana PPN Keluaran dan masukan ini dalam dunia bisnis? Akan saya jelaskan dalam ilustrasi di bawah ini.

Misalnya PT A, sebuah perusahaan manufaktur memiliki transaksi berikut

1 Januari 2016 membeli BKP dari PT B seharga 120.000.000, belum termasuk PPN 10%

5 Januari 2016 menjual BKP ke PT Z dengan harga 130.000.000, belum termasuk PPN 10%

Maka, pada tanggal 1 PT A akan membayar pajak (PPN Masukan) sebesar 12 juta (10% dari 120 juta). Sedangkan pada tanggal 5, PT A akan dibayar oleh PT Z dengan pajak (PPN Keluaran) 13 juta (10% dari 130 juta).

PPN Masukan (Prepaid tax) = 12.ooo.ooo
PPN Keluaran (Tax Payable)= 13.000.000

Artinya perusahaan A memiliki kewajiban pajak yang harus disetorkan ke negara sebesar 1 juta (13 juta dikurangi 12 juta). Begitulah kira-kira mekanisme dalam perhitungan PPN sederhana. Dalam dunia nyata, tentu ada ratusan bahkan ribuan transaksi ekonomi per hari yang harus diperhitungkan PPN nya.

About Author

Mahasiswa Akuntansi Universitas Al Azhar Indonesia

Comments are closed.